Back to you

'Sejauh apapun kakimu melangkah, bila aku adalah rumahmu kau pasti akan selalu kembali padaku memelukku dengan erat dengan lengan kokohmu' 

Ratusan hari telah kita lewati bersama, bergandengan tangan dan menghadapi bagaimana kejamnya dunia. Terkadang genggaman kita terlepas sementara dan menarik nafas panjang untuk melanjutkan perjalanan kita yang masih fana ini. Bukan hanya harus melepas genggaman namun terkadang saling berjalan ke arah yang berlawanan untuk meyakinkan diri apakah kau adalah rumahku dan aku adalah rumahmu. 

Di persimpangan kita banyak menemui orang-orang baru untuk menguji seberapa kuat kita untuk memegang komitmen yang telah kita buat sebelumnya. Orang-orang datang silih berganti dan memiliki porsinya masing-masing dalam hidup kita. Terkadang kita terlalu terbuai dengan kehadiran orang baru diantara kita karena  keterbatasan jarak dan waktu yang sedang kita jalani sekarang. Bukan perkara siapa yang memiliki hatimu tapi perkara apakah hatimu tak ingin memiliki sandaran ketika kau jatuh atau memiliki lengan yang siap untuk menopang tubuhmu saat kau tak mampu lagi untuk menghadapi bagaimana kerasnya dunia ini. 

Katakanlah aku bukan orang yang terbaik untukmu, katakanlah aku bukan orang yang dengan teguhnya menjaga komitmen yang telah kita buat, katakanlah aku bukan orang yang mampu dengan mudahnya menghadapi kejamnya dunia ini sendiri tanpa adanya tangan yang selalu menggenggam tanganku dan tatapan yang senantiasa menguatkanku. Katakanlah aku terlalu takut untuk menjalani hariku seorang diri, aku butuh orang yang menjadi sandaranku saat aku tak mampu mengucap kata lelah lagi, aku butuh sandaran ketika aku tak mampu mengungkapkan perasaanku dengan air mata. Aku hanya butuh lengan yang memelukku dan berkata aku pasti bisa melewati segala rintangan yang ada.

Aku rindu dengan canda tawa kita yang kian hari kian memudar karena kesibukan kita yang tak dapat dihindari. Aku rindu tidur di pangkuanmu dan kau memainkan rambutku hingga aku tertidur. Aku rindu ketika  aku tak harus lagi mengungkapkan apa yang aku pendam tapi kau tau apa yang terbaik untukku. I'm missing all of you 

Mungkin masa-masa sekarang adalah masa kita untuk menguatkan hati kita apakah kita mampu bersama untuk selanjutnya. Mungkin terlalu banyak rintangan yang harus kita hadapi selanjutnya. Katakanlah aku tak siap untuk menghadapi bagaimana judge orang-orang pada kita. Katakanlah aku belum siap untuk benar-benar membuat komitmen untuk selanjutnya. Aku hanya terlalu khawatir tentang bagaimana konflik-konflik yang bermunculan karena kita tetap bersama. Aku hanya terlalu khawatir dan selalu ingin melarikan diri dari semuanya. Aku hanya ingin menikmati duniaku tanpa beban dan menikmati bahagiaku. 

Ditemani oleh hembusan angin malam, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaikan lembaran-lembaran foto yang berserakan aku mengingat-ingat apa saja yang telah kita lalui bersama. Biarkan aku berkelana tuk meneguhkan hatiku pada siapa ku akan bersandar nantinya. Bila nanti memang kaulah rumahku, kakiku pasti akan selalu melangkah padamu.



Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Back to you"

Post a Comment