Cinta Tapi Beda

'aku untuk kamu, kamu untuk aku, namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda. Tuhan memang satu, kita yang tak sama, haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi'- Peri cintaku
Jatuh cinta seakan dua mata pisau, terkadang bahagia namun terkadang juga sedih. Kau tidak bisa memilih untuk menjatuhkan hatimu pada siapa, tapi dia dengan sendirinya memilih untuk melabuhkan dirinya pada seseorang yang mampu untuk membuatnya nyaman. Di usia yang telah menginjak dewasa, tentu bukan lagi perkara siapa yang menemanimu untuk bersenang-senang, tapi perkara dengan siapa kau menghabiskan senja bersama sepanjang hidupmu. 
Pertama kali aku melihatmu lewat di depanku, terasa ada sesuatu yang berbeda dengan dirimu. Aku mulai penasaran dengan sosokmu. Aku mencari tahu tentangmu dan mengamatimu diam diam dari kejauhan. Aku tersenyum melihat bagaimana interaksimu dengan teman-temanmu. Mungkin bagi sebagian orang kau perempuan yang bisa dikatakan galak dan tomboy. Mungkin sebagian orang tak bisa mengerti mengapa kau bertingkah demikian tapi aku melihat sesuatu yang berbeda di dalam dirimu. 
Mungkin semesta merestui kita, aku dan kamu dapat bertemu dan saling mengenal di salah satu kegiatan di kampus. Mulai dari sana aku mendekatimu dengan melontarkan candaan-candaan yang bisa dikatakan tidak lucu namun kau dengan wajah kesalmu menahan senyum dan tawamu, ah itu adalah ekspresi favoritku. Aku suka membuatmu kesal dengan bibirmu yang dikerucutkan dan aku sesekali mencubit pipimu dengan gemas. 
Tidak butuh waktu yang lama untuk mengungkapkan perasaanku padamu dan aku bahagia karena kaupun memiliki perasaan yang sama padaku. Hari demi hari telah kita lewati bersama, banyak suka dan duka yang kita lalui bersama. Namun, kita memiliki satu perbedaan yang menjadi tembok besar penghalang untuk hubungan kita. Aku dengan udeng-ku, kamu dengan mukena-mu, aku dengan genitriku dan kamu dengan tasbihmu, aku mengangkupkan tangan di dada dan kau menengadahkan tangan untuk memuja Tuhan kita. Aku yakin bahwa Tuhan itu hanya satu, namun kita sebagai umat memujanya dengan cara yang berbeda. Bukan lagi masalah dua orang  yang mengambil keputusan, bukan lagi masalah dua orang  yang berjuang bersama untuk mempertahankan keutuhan, bukan lagi masalah dua orang yang ingin bersama namun terhalang dengan tembok besar yang siap menjadi alasan utaman untuk berpisah. 
Terkadang aku terlalu bingung dengan doktrin-doktrin yang terjadi di masyarakat, terkadang aku bingung harus bersikap bagaimana saat aku jatuh hati pada orang yang memiliki pedoman hidup yang berbeda. Aku bingung mengapa aku harus menyerah dan memilih untuk mematahkan hatiku demi hal seperti ini. Tidak bisakah aku memilikimu? Tidak bisakah kita hidup bersama untuk membangun kebahagiaan kita berdua tanpa memikirkan tembok besar yang menjadi penghalang? 
Aku hanyalah manusia biasa yang batas untuk berjuang, aku berusaha untuk memperjuangkanmu di hadapan orang tuamu, namun mereka memberiku satu syarat yang sangat berat untuk aku penuhi. Mereka hanya memberikan syarat orang yang seiman untuk menjadi pendampingmu. Taukah kau betapa hancurnya aku dengan syarat yang mereka berikan? Taukah kau rasanya aku tersedot ke lubang hitam dan tak mampu untuk keluar dari sana? Taukah kau apa yang membuatku semakin hancur? Hal itu adalah saat kau menyerah untuk memperjuangkan cinta kita, kau menyerah untuk mempertahankanku menjadi pendampingmu, kau menyerah pada kenyataan yang memang menjadi penghalang untuk dua insan yang memiliki perbedaan seperti kita. 
Untukmu wanita yang telah menghabiskan ratusan hari bersamaku dan menjadi orang yang sangat aku cinta. Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku, semoga kau mendapatkan seseorang yang terbaik untuk menjadi pendampingmu. Cintaku masih tertuju padamu dan akan selalu membekas walau digerus oleh sang waktu. 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Cinta Tapi Beda"

Post a Comment