‘Luka tidak bisa menghilang. Luka lama hanya akan digantikan oleh luka baru atau teralihkan sementara dengan kebahagiaan. Kita bisa bertahan hidup karena luka.’
Luka memang menyakitkan, luka memang membuat kita menjadi terpuruk, tapi luka juga membuat kita menjadi manusia yang lebih tangguh dari sebelumnya. Kita hidup tidak dapat menghindari setiap luka yang diberikan oleh orang-orang yang singgah. Hidup bukan hanya perkara interaksi antar dua orang manusia, namun interaksi antar banyak manusia. Kita tidak bisa mengontrol siapa saja orang yang hadir di hidup kita, kita tidak dapat mengontrol kemana hati kita akan berlabuh.
Ketika kita telah menetapkan hati untuk berlabuh, kita akan mencintainya dengan sepenuh hati tanpa menggunakan logika yang bertolak belakang. Entah berapa orang yang mengatakan aku terlalu gila untuk mencintaimu, namun aku tetap bersikukuh untuk mencintaimu tanpa mempedulikan tembok besar yang menjadi penghalang kita. Aku terlalu memujamu, aku terlalu takut untuk kehilanganmu, aku terlalu takut untuk tidak bisa menjatuhkan hati kepada lelaki manapun kecuali kamu.
Aku tau saat kita memutuskan untuk berjalan bersama, banyak kerikir-kerikil tajam yang siap melukai kaki kita ketika melangkah. Aku telah memberitaumu tentang keadaanku, aku telah memberitaumu bahwa aku ingin menjalin hubungan yang tidak main-main lagi, aku telah memberitaumu bahwa aku akan memperjuangkanmu bila kau juga mau untuk memperjuangkan kita.
Semakin hari, semakin dingin hubungan kita. Entah kau yang terlalu sibuk dengan duniamu, entah kau mulai jenuh denganku atau kau pelan-pelan mulai bergerak mundur karena tidak mampu lagi untuk berjuang. Kita sama-sama pernah mengalami hal yang lebih buruk dari keadaan kita sekarang, itu yang membuatku lebih memiliki harapan untuk tetap bersamamu hingga nanti.
Terkadang aku tidak mampu untuk menahan luka yang secara tidak sadar kau torehkan. Bukan menyangkut kita berdua, tapi menyangkut masa lalu yang masih sangat melekat dalam ingatanmu. Kamu masih saja selalu menyelipkan namanya dalam setiap percakapan kita, kamu masih saja selalu mengenang tentang apa saja yang telah kalian lalui bersama tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Kini kau telah bersamaku, tak bisakah kau hanya menjadikan masa lalumu hanya sebagai masa lalu bukan sesuatu yang dapat mempengaruhi hubungan kita di masa kini? Akupun tidak dapat memungkiri bahwa terkadang aku juga mengenang masa laluku, tapi tidak sebanyak dirimu.
Kau membuatku berpikir apakah kau benar-benar mencintaiku seperti apa yang kau gaungkan di setiap hari kita? Apakah kau benar-benar telah menutup lukamu yang lama dan siap untuk memulai hal baru denganku? Apakah kau benar-benar telah menjatuhkan hatimu untukku sebagaimana aku menjatuhkan hatiku untukmu? Apakah kau benar-benar serius denganku bukan menjadikanku sebagai pelampiasanmu? Banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan padamu, namun lidahku kelu ketika bersamamu.
Belum ada tanggapan untuk "It's not about you or me, it's about us"
Post a Comment