Pamit

'Ketika dua pasang kaki tak berjalan searah, ketika dua pasang mata tidak memandang objek yang sama, ketika tautan jemari tangan kian melonggar dan ketika visi tak lagi sama, mungkin saatnya kita berhenti sejenak untuk mengenal diri kita masing-masing lebih baik lagi.'

Dua kepala yang memiliki pola pikir berbeda, dua orang yang memiliki idealisme berbeda, dua orang yang memiliki prioritas berbeda serta cara menghadapi masalah yang berbeda. Perbedaan itu awalnya bisa dihadapi tanpa banyak usaha dan pertentangan.

Mungkin bila dilihat dengan kasat mata, hubungan kita tak memiliki masalah yang besar untuk diperdebatkan. Namun, apabila ditelisik lebih dalam lagi kita sebenarnya memiliki masalah yang pelik dan tak memiliki titik temu. Perbedaan pandangan hidup yang menjadi dasar kita untuk menjalani hubungan kian hari kian memudar. Bukan hanya permasalahan tentang memberi kabar setiap tindak tanduk yang dilakukan, tapi masalah apakah tindakan satu sama lainnya akan menyakiti salah satu atau keduanya. 

Aku bukanlah orang yang bisa dikekang, aku sangat mencintai kebebasanku untuk bertindak, berteman bahkan untuk melakukan hal-hal yang mungkin orang menganggapnya sepele tapi aku sangat menikmati itu. Aku membenci setiap aturan yang memojokkanku, aku benci bila aku dikatakan menyakiti seseorang tanpa aku tau apa yang salah dengan apa yang aku lakukan. Semakin lama perasaanku tergerus oleh logika-logika yang membuatku semakin muak tentang ketidakpastian. 

Ketika kau mencoba untuk bertindak dengan memikirkan perasaan orang lain tapi apakah mereka mengerti tentang perasaanmu? Ketika kau berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, apakah mereka bertindak tidak mengecewakanmu? Ketika kau melakukan hal yang terbaik untuk mereka, apakah mereka melakukan hal terbaik untukmu? Ketika kau terlalu mengkhawatirkan mereka, apakah  mereka mengkhawatirkanmu juga? 

Mungkin kau bisa memandangku tak memikirkan perasaan orang lain, tak berperasaan dalam mengambil keputusan, kejam untuk menyakiti orang, tapi semuanya itu salah. Kau yang terlalu egois untuk memaksakan kehendakmu. Aku jenuh, aku muak dan aku lelah menghadapi semuanya. Aku ingin bebas untuk menikmati hidupku sendiri tanpa adanya paksaan apapun dari orang lain. Aku ingin memilih jalanku sendiri tanpa adanya batasan-batasan yang tidak masuk akal. Aku ingin pergi dengan mengenal siapa saja untuk berbagi pengalaman, aku tidak mau membatasi diriku untuk bergaul dengan seseorang. Tidak ada yang boleh membatasinya, kendatipun itu kamu. Kau tak memiliki hak apapun atas aku karena aku bukan sepenuhnya milikmu. Aku masih bisa memilih siapa orang yang gerbait untuk menjadi pendamping hidupku. 

Aku benci mengungkit masa lalu, tapi bagaimanapun masa lalu adalah bagian dari hidupmu yang tak akan pernah lepas darimu. Aku benci setiap orang yang mempermasalahkan masa laluku tanpa tau apa yang aku rasakan dalam memilih hal itu. Aku benci untuk menemui permasalahan yang sama dan aku benci setiap kau memojokkanku dengan masa laluku. 


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pamit"

Post a Comment