love or logic?

'Karena kita akan tersadar dengan apa yang kita miliki setelah kehilangan.'

Tidak ada orang yang akan baik-baik saja setelah berpisah, itupun yang aku rasakan. Mungkin terasa berat pada awalnya untuk merelakan kamu pergi setelah apa yang telah kita lalui bersama. Aku terlalu egois untuk memilih untuk berpisah dan menyerah untuk berjuang bersamamu karena aku tidak mampu melihat konflik yang lebih besar lagi nantinya. 

Kita memang memiliki perbedaan yang mustahil untuk disatukan, aku dengan tasbihku, kamu dengan genitrimu. Aku dengan sujudku, kamu dengan baktimu. Terkadang aku berpikir untuk melepasnya demi bersamamu, terkadang aku berpikir untuk menyerah dengan apa yang aku anut selama hidupku agar bisa menikmati sisa hidupku dengan orang yang aku cintai. Aku sempat berpikir apakah pengorbanan yang akan aku lakukan dapat diterima oleh orang banyak.

Sejak aku menerima pernyataanmu, aku sudah tau akan ada tembok besar yang menjadi penghalang dalam perjalanan kita. Aku mencoba optimis untuk melewati tembok itu, namun aku gagal, kita gagal. Terlalu banyak tekanan, terlalu banyak halangan dan terlalu lelah untuk memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Saat aku dengan yakin memutuskan untuk menyerah, aku terus berjalan ke depan tanpa ingin menoleh ke belakang lagi.

Namun, semakin aku jauh berjalan semakin aku teringat dengan banyak hal yang kita lalui bersama, setiap sudut kota ini selalu mengingatkanku akan hangatnya pelukanmu, akan lembutnya ciumanmu dan manisnya kebersamaan kita. Mungkin kita masih terlalu muda dan terlalu egois untuk memikirkan hal-hal yang logis, yang aku tau aku mencintaimu dan ingin hidup selamanya bersamamu. Semakin aku mengingat semua hal yang kita lakukan, semakin aku menyesal kenapa aku melepaskanmu dengan mudahnya.

Aku mencoba untuk menghubungimu demi menyalurkan rinduku, aku berharap kau masih memiliki sisa-sisa rasa sayangmu untukku. Katakanlah aku seorang yang egois, tapi aku masih berharap untuk kembali merasakan hangatnya di dekapanmu, aku tidak rela ada orang lain yang menggantikan posisiku, aku tidak rela pelukan hangat itu kau berikan kepada wanita lain, aku tidak rela kau memperhatikan wanita lain selain aku, aku tidak rela.

Mungkin aku terlambat untuk menyadarinya, terlalu besar luka yang aku berikan padamu, terlalu besar pengorbanan yang kau lakukan untukku dan terlalu banyak jejak-jejak kenangan yang ingin aku rasakan kembali. Mungkin bila aku bisa memohon, aku ingin kau kembali mendampingi hari-hariku, tapi aku tau kesempatan kedua tidak akan sama dengan kesempatan pertama. Tentu saja akan banyak perubahan yang akan terjadi.

Aku disini masih saja memikirkanmu di setiap malam menjelang tidur dan ketika aku membuka mataku. Aku masih saja merasakan rindu yang menusuk, aku masih saja merasa hari-hariku sepi tanpa kehadiran senyumanmu, aku masih saja merasa kedinginan tanpa dekapanmu. Maafkan kebodohanku dan terimakasih atas segala yang telah kau berikan kepadaku. 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "love or logic?"

Post a Comment