Society constructions

'Aku bukannya menyesali perpisahan kita, tapi aku menyesali perjuangan yang telah aku lakukan dan sia-sia'

Butuh ratusan hingga ribuan hari untukku untuk memantapkan diri untuk tak lagi mengharapkanmu. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghapus sisa sisa serpihan hati yang telah kau hancurkan, bahkan hingga kini aku belum bisa untuk membenahi hatiku. Sekelebat bayanganmu masih saja bisa menjungkirbalikkan moodku seketika. Aku pernah menaruh harapan yang begitu besar untuk bersamamu namun tak sedikitpun kau menghargai perjuanganku. Aku tidak membencimu, tapi aku hanya kecewa pada semua keputusan yang telah kau ambil.

Mungkin benar bila memulai sesuatu dengan perbedaan yang mendasar, tidak akan berakhir dengan baik pula. Aku tau kita dipisahkan oleh jurang perbedaan yang tidak memiliki titik temu apabila tidak saling mengalah satu sama lain. Aku sempat berjuang untuk mengatasi perbedaan yang terjadi diantara kita, aku pernah berjuang untuk memberanikan diri berbicara pada kedua orang tuamu untuk berbicara keseriusanku padamu.

Aku pernah bersikukuh untuk tidak ingin berpisah denganmu, tapi kau mencampakkan aku begitu saja. Aku pernah terpuruk dengan kesedihanku karenamu. Hingga kini, lukaku masih basah dan belum menemukan obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Hingga aku harus berpikir berulang kali untuk menjalin sebuah hubungan dengan orang yang baru, aku harus berpikir ulang untuk menetapkan sebuah komitmen untuk bersama dengan perempuan lain untuk mendampingiku. Aku sangat berhati-hati untuk melabuhkan hatiku pada seseorang yang tepat untukku.

Tentu banyak orang yang silih berganti datang di hidupku, namun tetap saja bayangan tentangmu tidak mudah untuk dihapuskan. Hingga aku bertemu dengan dia setelah beberapa tahun aku memperbaiki hatiku. Mungkin secara kasat mata, dia adalah orang yang periang dan banyak orang yang menilai jika dia adalah orang galak dengan orang-orang yang dia tidak sukai. Namun aku menemukan banyak persamaan dengannya. Mungkin dari luar dia terlihat tegar, namun sebenarnya dia adalah orang yang sangat rapuh. Banyak hal yang dia tutupi dari dunia luar karena alasan tertentu. Mungkin tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa masuk ke dalam hatinya, perlu perjuangan untuk bisa mendekatinya. Semakin harı aku semakin mengerti bagaimana pola untuk bisa menaklukkan hatinya. Menaklukkan dia sama halnya seperti aku mempelajari diriku sendiri, aku menemukan seseorang yang mirip denganku. Kami berdua memiliki luka yang tidak bisa dikatakan ringan, luka itu sama sama masih menganga. Luka yang diakibatkan oleh konstruksi buatan masyarakat, luka yang diakibatkan oleh tradisi serta adat yang mengikat kami.

Mungkin kami adalah segelintir orang yang ingin melawan arus untuk melawan konstruksi yang dibangun oleh masyarakat. Mungkin kita hanya segelintir orang yang menjadi korban dari konstruksi tersebut. Bukannya kami membenci tempat dimana kita dilahirkan, namun kita membenci konstruksi yang dibangun dan sangat mengikat. Aku muak dengan segala tuntutan yang bisa dikatakan tidak masuk akal, banyak tuntutan yang sudah tidak relevan dengan kehidupan di masa sekarang. Aku muak dengan segala aturan dalam hidup ini, bahkan kita diatur untuk hal-hal yang paling asasi dalam hidup kita termasuk pernikahan. Aku hanya ingin hidup dengan orang yang aku cintai dan membangun hidup tanpa campur tangan orang lain.

Terkadang aku tidak ingin pulang dan menemukan permasalahan yang sama berulang-ulang kali tanpa menemukan titik temu. Aku terlalu nyaman untuk tinggal di tempat asing dengan budaya yang berbeda. Aku terlalu nyaman dengan kehidupanku disini tanpa terusik dengan perkataan orang-orang yang sering menjatuhkan dibandingkan merangkul untuk bangkit. Aku terlalu nyaman bersama dia walaupun kami belum bisa memastikan rintangan dan halangan apa saja yang akan kami hadapi bersama.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Society constructions"

Post a Comment