Akan ada saat dimana kau ingin mencurahkan semua keluhmu tanpa ada komentar. Akan ada saatnya kau hanya butuh pelukan tanpa harus menjelaskan apa yang terjadi. Akan ada saatnya kau hanya butuh diberi kasih sayang tanpa syarat. Katakanlah aku terlalu egois karena hanya mementingkan kebahagiaanku sendiri, tapi apakah kau pernah tau apa yang sebenarnya aku pendam? Mungkin tidak.
Terlalu banyak kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulutmu, kau berkata tanpa pernah memikirkan apa yang aku rasakan setelahnya. Terlalu banyak justifikasi yang kau lontarkan tanpa tau alasanku untuk melakukan sesuatu. Terlalu banyak kata-kata hina yang kau katakan.
Aku tau bila aku bukanlah orang yang sempurna, aku tau bila aku bersikap terlalu menyebalkan dan membuatmu kesal, aku tau banyak cara kita untuk menghadapi sesuatu itu berbeda. Kita dibesarkan di lingkungan yang berbeda dan dipertemukan saat kita telah terbentuk sebelumnya. Apa kau tau perbedaan itu bukan untuk diseragamkan, perbedaan akan tetap jadi perbedaan, dan kita harus menghargai setiap perbedaan yang ada di masing-masing orang tanpa mencela atau bahkan memaki perbedaan cara mereka untuk melakukan sesuatu.
Mungkin aku telah salah menilaimu, aku kira kau adalah orang yang berbeda dengan wawasan yang luas dan bisa menerima perbedaan, ternyata aku salah. Kau sama saja melihat sesuatu hanya dari satu sisi, kau hanya menilai sesuatu hanya dari sisimu, tanpa memikirkan bagaimana keadaan orang lain. Tidak ada satupun dari kita yang berhak untuk menghakimi hidup orang lain. Kau tidak pernah tau bagaimana perjuangan mereka untuk bertahan hidup hingga sekarang, kau tidak pernah tau bagaimana mereka menyembuhkan luka-luka batin yang ada dalam dirinya, kau tidak pernah tau bagaimana mereka berjuang untuk mengatasi trauma mereka saat pemicunya tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Kau tidak pernah tau rasanya tiba-tiba menangis di tengah malam tanpa tau alasannya. Kau tidak pernah tau bagaimana rasanya terlalu insecure dengan diri sendiri karena terlalu banyak penghakiman yang diterima.
Aku tau kau bersikap seperti itu karena pernah mendapatkan luka yang cukup parah. Tapi luka yang kau dapat ketika dewasa dan ketika kau masih muda dan tidak berdaya itu berdampak berbeda saat dewasa. Anak-anak yang mendapatkan trauma saat masih muda sangat sulit untuk keluar dari lingkaran itu karena mereka tidak tau harus berbuat apa sebagai penyaluran tekanan yang dia alami. Setiap watak dan kebiasaan seseorang pasti terbentuk oleh lingkungannya.
Kau bisa berkata aku lemah karena tidak bisa berdamai dengan masa laluku, tapi kau salah. Aku tidak selemah itu, bila aku lemah, kau tak akan mungkin bisa bertemu denganku di sini. Mungkin aku sudah bersama dengan satu-satunya orang yang mencintaiku tulus, mungkin aku akan meminta dia untuk menjemputku dan hidup di tempat dia berada sekarang.
Kau tidak akan mengerti karena kau tidak pernah ingin tau dan membandingkan kondisimu dengan orang lain, padahal kondisimu dengan mereka tidaklah sama. Kau terlalu idealis dengan apa yang kau yakini benar. Kau terlalu membenci tempat dimana kau berasal. Mau berlari dan menghindarpun bila memang itu tempatmu yang seharusnya, kau akan kembali dengan situasi dan kondisi apapun.
Berhati-hatilah dengan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu bila kau tidak ingin orang yang mencintaimu dengan tulus pergi meninggalkanmu. Mungkin cintamu tidak sebesar cintanya, mungkin cintamu hanya sebuah peralihan karena kau tidak bisa bersatu dengan orang yang telah memiliki hatimu, mungkin dia tidak terlalu berarti hingga kau tidak pernah takut untuk kehilangan dia, mungkin kau berpikir bila dia bukanlah orang yang pantas bersanding denganmu. Entahlah, hanya kau dan dirimu sendiri yang mengetahuinya.
Belum ada tanggapan untuk "Anxiety "
Post a Comment