Dia
Dia tidak akan pernah tergantikan,
Dia tidak akan tergantikan olehmu atau oleh orang lain,
Dan kamu tidak akan menggantikan siapapun
Dia dan kamu adalah dua orang yang berbeda, tidak mungkin untuk saling menggantikan
Biarkanlah aku meletakkan semua kenangannya di dalam satu kotak yang aku kunci dan aku kubur rapat rapat dalam hatiku,
Biarkanlah aku untuk mengenangnya untuk diriku sendiri dan tidak berbagi pada yang lainnya tentang dia
Cukup hanya aku saja yang tau, kau tidak perlu tau karena bisa saja kau tersakiti mendengar sesuatu yang tidak ingin kau dengar
Dia memang pernah menjadi seseorang yang sangat berarti untukku pada masanya, namun tidak dengan sekarang
Aku terlalu banyak membangun mimpi mimpi bersamanya tapi semua mimpi itu tidak mungkin terwujud, kecuali semesta menyatukan kami kembali
Aku masih ingin mengenangnya dengan hal-hal yang indah, aku masih berusaha mengatakan pada orang-orang agar dia masih terlihat baik di mata mereka
Banyak orang yang menghujatku, tapi aku masih tetap pada pendirianku untuk mengenangnya dengan baik-baik tanpa cacat sedikitpun.
Hingga aku mendengar kabar tentang dia, dia menangis di depanku dan meminta maaf atas semua yang telah dia lakukan padaku
Ingin aku berkata padanya “Untuk apa kau meminta maaf padaku? Apa karena kau mengulang kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya?” Aku bimbang dengan perasaanku, aku terasa tersedot dalam lubang hitam dan kembali pada masa masa kami bersama
Tak bisa aku pungkiri, aku kembali kecewa dengan keputusannya
Dulu, aku begitu memperjuangkannya hingga memberanikan diri untuk menghadap orang tuanya, menyatakan segala keseriusanku padanya. Tapi dia malah menyia nyiakannya
Dan sekarang apa yang dia lakukan? Apa boleh aku menyebutnya bodoh? Apa boleh aku menuntut ketidakadilan ini? Apa aku boleh berteriak di depannya bahwa dia masih memiliki separuh hatiku?
Tapi aku sadar, aku hidup di masa sekarang bukan di masa lalu lagi
Aku sudah cukup untuk menjatuhkan hatiku sejatuh jatuhnya padanya hingga aku lupa dengan hidupku sendiri
Tapi aku sekarang sudah bisa berdiri, berjalan dan membangun hidupku kembali
Kini aku telah bersamamu yang hadir di setiap hariku, kau selalu ada pada saat terburuk maupun terbaikku.
Mungkin masih banyak hal dalam diriku yang belum sepenuhnya melupakan dia, aku masih saja menyelipkan namanya di sela-sela percakapan kita. Aku masih saja menjadikan dia sebagai benchmark untuk segala hal. Maafkan aku yang masih saja menjadikan dia sebagai perbandingan di setiap hal yang tanpa sengaja tercipta.
Hatiku masih bimbang untuk meyakinkan apa yang harus aku pilih dan aku lakukan, aku tidak mungkin menyakitimu terus menerus dengan merapalkan namanya. Aku sadar dengan mengucapkan namanya terus-menerus, aku tak akan mungkin bisa melupakan dia, aku tentu akan berjalan di tempat, tidak akan berpindah.
Aku terlalu berfokus kepada masa laluku hingga aku melupakan seseorang yang hadir di masa sekarang. Aku terlalu banyak menoleh ke belakang tanpa memperhatikan jalan yang terbentang di depanku.
Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Genggam tanganku, berjalanlah di sampingku. Ingatkan aku bila aku menoleh terlalu banyak ke belakang, ingatkan aku bila genggamanku mulai melonggar. Tetaplah kamu berada di sisiku, menjadi sandaranku saat titik terlemahku dan menjadi orang pertama yang merayakan keberhasilanku.
Untukmu orang terkasihku
Belum ada tanggapan untuk "Ketika dia pergi"
Post a Comment